Thursday, April 25, 2013

PENGERTIAN DEVISA

Devisa adalah saldo valuta asing pada bank dan alat pembayaran luar negeri lainnya kecuali uang logam yang mempunyai catatan kurs resmi pada Bank Indonesia; di kalangan perbankan internasional, devisa sama dengan valuta asing (deviezen).[1]
Devisa adalah semua barang yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran internasional dan bersifat konvertibel. Devisa terdiri atas valuta asing, yaitu mata uang yang dapat diterima oleh hampir semua negara di dunia (seperti US Dollar ($), Yen Jepang, Euro, Poundsterling Inggris), emas, surat berharga yang berlaku untuk pembayaran internasional, dan lainnya.[2]

Fungsi Devisa
Pada dasarnya devisa dapat berfungsi sebagai:
1.      Alat pembayaran luar negeri (perdagangan, ekspor, impor, dan seterusnya)
2.      Alat pembayaran utang luar negeri.
3.      Alat pembiayaan hubungan luar negeri, misalnya perjalanan dinas, biaya korps diplomatik kedutaan dan konsultan, serta hibah (hadiah, bantuan) luar negeri.
4.      Sebagai sumber pendapatan negara.

Jenis-Jenis Devisa
  1. Devisa Umum: Devisa yang diperoleh dari kegiatan perdagangan antarnegara dan tidak ada kewajiban untuk mengembalikan.
  2. Devisa Kredit: Devisa yang diperoleh dari pinjaman atau bantuan dari luar negeri dan ada kewajiban untuk mengembalikan. Sumber devisa kredit antara lain:

Sumber-Sumber Devisa
Pada dasarnya devisa dapat bersumber dari:
a.        Ekspor Barang
Jika suatu negara mengekspor barang ke negara lain, maka negara tersebut akan memperoleh devisa dari negara pengimpor. Semakin banyak barang yang diekspor, maka semakin banyak pula devisa yang diperoleh.
b.        Penjualan Jasa ke Luar Negeri
Negara mendapatkan devisa dari warga negaranya yang bekerja di luar negeri. Apabila suatu negara mengadakan atau menyelenggarakan jasa untuk negara lain, maka negara tersebut akan memperoleh devisa. Misalnya, Indonesia mengirimkan TKI-nya untuk bekerja di luar negeri, maka Indonesia akan mendapatkan devisa dari pendapatan TKI di luar negeri.
c.         Penanaman Modal di Luar Negeri
Dividen yang diperoleh oleh negara atas porsi penanaman saham di luar negeri akan menambah devisa negara. Misalnya, PT. Garuda Indonesia melakukan pembelian saham PT. Qatar Airways milik negara Qatar, maka keuntungan yang diperoleh PT. Garuda Indonesia akan menambah devisa Indonesia.
d.        Perolehan Valuta Asing dari Sektor Pariwisata (Turis Asing)
Pendapatan yang diterima dari turis asing yang melakukan wisata di dalam negeri akan menambah devisa negara karena turis asing tentu akan membawa uang dari negara asalnya, namun uang dari negara asalnya itu tidak dapat digunakan sebagai alat pembayaran di Indonesia. Maka turis asing akan menukarkan uangnya dengan Rupiah. Penukaran uang asing menjadi uang rupiah akan menjadi devisa bagi Indonesia. Semakin banyak turis mancanegara yang datang maka pemasukan devisa akan semakin banyak.
e.        Pungutan Bea Masuk
Pemerintah menetapkan suatu bea masuk atas barang-barang impor, bea masuk ini juga akan menambah devisa negara. Semakin banyak yang diimpor maka devisa yang diperoleh akan semakin banyak. Akan tetapi pada kenyataannya, banyak barang-barang yang masuk tanpa ada izin (diselundupkan), sehingga hal ini dapat mengurangi perolehan devisa bagi negara.
f.          Pinjaman Luar Negeri
Pinjaman luar negeri menambah devisa secara sementara karena ada kewajiban untuk mengembalikannya. Pinjaman ini dapat digunakan untuk membayar semua pembiayaan ke luar negeri.
g.        Bantuan Luar Negeri
Bantuan yang diperoleh dari luar negeri dapat berbentuk uang atau barang. Apabila berbentuk uang maka akan secara otomatis menambah devisa. Apabila berbentuk barang maka negara dapat menghemat devis negara karena dapat memperoleh barang tanpa harus membayarnya.



[1] Kamus Istilah Bank Indonesia